Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Tuesday, May 19, 2020

Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram


Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Saya sudah menulis tentang Blogfam Reborn, tetapi belum sempat dipublis. Nanti deh. Blogger Family (Blogfam) bukan nama baru di kancah komunitas blog Indonesia. Ada beberapa komunitas blogger yang terinspirasi dari Blogfam dan dibangun oleh anggota Blogfam itu sendiri. Meskipun sempat mengalami mati suri namun Blogfam tetap dan akan selalu ada. Kali ini Blogfam kembali dengan inovasi baru yang menurut saya ... sudah seharusnya dilakukan hehe. Karena apa? Karena anggota Blogfam itu hebat-hebat dan bolehlah berbagi cerita, informasi, ilmu, pengalaman, kepada orang lainnya.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Meskipun bersifat daring, karena komunitas blogger pasti terjadi atau ada atau dibangun karena daring, tapi Blogfam sudah melaksanakan ratusan kegiatan luring. Itu dulu, ketika level kesibukan setiap anggota belum tiba di nirwana. Haha. Saat ini, setiap anggota super sibuk (termasuk saya, oih), ditambah lagi dengan Covid-19 yang mengharuskan kita lebih sering berada di rumah. Menyikapinya, maka bersingungan dengan Blogfam Reborn, dilakukan kegiatan keren yang tidak mengharuskan anggotanya keluar rumah. Cukup bermodalkan telepon genggam dan pulsa internet, voilaaaaa ...

Talkshow Live Instagram


Talkshow live Instagram dilakukan melalui aplikasi Instagram. Tajuk besar yang diambil adalah NGOBLOG: NGOBROL BARENG BLOGFAM. Kegiatan ini sudah berjalan? Sudah dong! Sudah dua kali malah.



Dan akan berlanjut pada yang berikut ini:



Jangan lewatkan, ya!

Teknisnya?


Nah ini dia, kita bicara tentang #SelasaTekno hehe. Awalnya saya juga bingung karena belum pernah melakukan live Instagram. Setelah saya cari tahu, ternyata mudah saja. Anyhoo, Instagram Live adalah fitur di Instagram Stories yang memungkinkan pengguna untuk mengalirkan video ke pengikut dan terlibat dengannya secara real time. Saat pengguna menyiarkan streaming video langsung di akun mereka, sebuah cincin menyoroti gambar profil mereka di Cerita Instagram untuk memperingatkan pengikut bahwa mereka dapat melihat siaran langsung. Selain itu, kita juga bisa mengundang pengguna Instagram lain bergabung ... makanya dapat tercipta talkshow.

Mudah saja:

Login pada akun Instagram yang akan melakukan live, kemudian setelah live kita bisa mengundang narasumber yang sudah disepakati (tentu sedang daring juga narasumbernya). Selesai.


Bagi kalian yang haus informasi-informasi keren, pastikan untuk mengikuti akun Blogfam di Instagram dan selalu memantau. Rugi lah kalau kalian melewatkan informasi-informasi keren itu. Hehe. Insha Allah akan bisa terus berjalan.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Ingat selalu pada masa Covid-19 ini jagalah protokol kesehatan. Menjaga jarak (aman), memakai masker, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau mencuci tangan dengan hand sanitizer, menyemprot disinfektan. Salam semangat dan salam sehat untuk kita semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, May 18, 2020

Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube


Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube. Minggu kemarin saya sama sekali tidak menulis blog dan hanya satu kali mengunggah video di Youtube. Benar-benar satu minggu yang diam dan senyap. Tetapi tentu saya ada alasannya. Meskipun diam dan senyap di blog dan Youtube, dalam kehidupan nyata justru sebaliknya. Terlalu banyak hal yang dilakukan sehingga untuk menengok blog pun sulit. Fokus, fokus, fokus. Kalau fokus terpecah, maka hari ini saya belum tentu bisa menulis blog. Haha. Tapi tentu saya

Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Di Kota Ende selain marak berita tentang satu orang yang dinyatakan positif Covid-19, warga juga dikejutkan dengan berita penyiraman air keras terhadap seorang perempuan bernama Adi Nona hingga meninggal dunia (karena cairan tersebut katanya memasuki jalan nafas). Berita ini sungguh membikin perasaan saya hancur. Bagaimana mungkin ada orang setega itu terhadap orang lainnya? Di bulan suci Ramadan pula! Dan yang lebih sadis adalah netizen yang kemudian memosting foto jenazah bersangkutan saat masih di IGD. Ini kan nganu ... pengen marah-marah jadinya.

Saya menulis begini di Facebook:

Arogansinya Netizen +62

Bulan Agustus 2017 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan bertajuk "Secangkir Kopi bersama Abang Frans Padak Demon". Abang Frans dari VoA Indonesia di Jakarta melempar quiz/pertanyaan. Kira-kira begini pertanyaannya: lebih mudah mana, pekerjaan wartawan zaman sekarang atau zaman dulu ketika belum ada internet? Saya sebagai orang yang menjawab dengan benar mendapat hadiah dompet VoA dan satu barang lagi yang saya lupa barang apa.

Jawaban saya waktu itu: lebih mudah pekerjaan wartawan zaman dulu karena saat sekarang wartawan bersaing dengan netizen yang selalu ingin lebih dulu menyiarkan segala sesuatunya tanpa memerhatikan akurasi data dan fakta.

Sejak mengenal Internetsehat (ICT Watch) dan kalimat "Jurnalis Warga" saya tahu bahwa netizen juga berhak untuk memosting apa pun, tetapi harus tetap memerhatikan kode etik online. Sayangnya arogansi netizen +62 jauh lebih besar menguasai besarnya bentuk otak di dalam tempurung kepala.

Pasal 4 PERATURAN DEWAN PERS Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan SURAT KEPUTUSAN DEWAN PERS Nomor: 03/SK-DP/III/2006 Tentang KODE ETIK JURNALISTIK SEBAGAI PERATURAN DEWAN PERS berbunyi sebagai berikut:

"Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul."

Penafsirannya adalah sebagai berikut:

"Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan."

Tidak mengenal belas kasihan merupakan wujud dari arogan. Arogan berarti sombong, congkak, pongah, serta mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa.

Wartawan tentu mematuhi aturan yang diberlakukan untuk mereka. Tapi netizen ...?

Netizen +62 itu arogan. Meskipun tidak semua. Kenapa arogan? Karena dengan penuh rasa percaya diri memosting foto jenazah/mayat di media sosial. Salah satu media sosial itu bernama Facebook. Karena apa mereka arogan? Karena ingin menjadi yang pertama menyiarkan berita dan foto tanpa menggunakan otak yang dilindungi tempurung kepala itu. Lebih sadis, foto jenazah yang diposting bukan keluarga mereka sendiri. Padahal, meskipun keluarga, sebaiknya menghindari melakukannya karena itu merupakan bentuk tidak punya rasa hormat terhadap jenazah.

Ini baru melihat dari peraturan Dewan Pers, belum lagi peraturan lain seperti Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Apakah memosting foto jenazah bisa terjerat hukum? Ya, bisa. Jangankan jenazah. Sebenarnya memosting foto orang lain tanpa izin yang bersangkutan pun bisa terjerat hukum. Pihak keluarga dari si jenazah bisa melakukan penuntutan terhadap netizen yang memosting foto korban yang bersangkutan. Bisa dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Siapa sih yang senang foto jenazah keluarganya diposting orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya? Keluarga bukan, pihak berwajib juga bukan, tapi berani melakukannya.

Netizen yang berani memosting foto jenazah di media sosial itu:

TIDAK PUNYA NURANI.

Sebenarnya saya mau menulis BUTA HUKUM tapi toh zaman sekarang setiap orang bisa mengakses segala macam peraturan yang ada. Jadi lebih tepatnya tidak punya nurani karena AROGAN.

Menjadi yang pertama itu baik, tapi menjadi yang pertama tanpa memikirkan hak orang lain untuk dihormati adalah bo ...

#LifeIsGood

Tahan-tahan emosi. Postingannya jauh lebih sopan. Hehe.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Saya harap netizen berhenti memosting foto jenazah dan/atau foto-foto bersifat sadis lainnya. Terutama foto jenazah, postinglah foto ketika beliau masih hidup dalam kondisi sehat dan penuh senyum. Biarkan semua orang mengenangnya dalam kondisi itu, bukan dalam kondisi yang buruk (setelah meninggal). Come on, kita orang-orang yang cerdas kan? I guess.

Semoga bermanfaat!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Saturday, May 09, 2020

Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing


Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing. Salah satu buku yang saya baca saat work from home demi menjalankan #DiRumahSaja berjudul Building A Ship While Sailing. Sebuah buku yang dibagikan langsung oleh penulisnya usai kegiatan seminar sekaligus peluncuran buku tersebut di Auditorium H. J. Gadi Djou tanggal 25 Agustus 2017. Sudah lama diluncurkan kenapa baru dibaca sekarang? Karena saya baru saja memperolehnya dari Kakak Shinta Degor. Haha. Dan lumayan juga buku ini dibaca di masa pandemi Covid-19, mengisi waktu, sembari nge-blog dan berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Dan yang namanya buku, tentu selalu baik untuk dibaca, selama buku itu memang merupakan buku yang bermanfaat.

Baca Juga: Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Bagi kalian yang penasaran, marilah kita kenalan sama buku ini.

Building A Ship While Sailing


Building A Ship While Sailing ditulis oleh S. D. Darmono, Chairman Jababeka Group. Buku bersampul hitam dengan foto sang penulis ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Sebanyak 222 halaman kita tidak saja disuguhi bermacam teori tetapi juga quote menarik, serta foto-foto. Menurut S. D. Darmono, judul buku ini diinspirasi oleh Prof. Dr. Emil Salim beberapa tahun lalu ketika meresmikan Botanical Garden yang dibangun Jababeka di Cikarang, Bekasi. Sambil bergurau Prof. Dr. Emil Salim mengatakan, kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar.

Pengantar buku ditulis oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Ketua Tidar Heritage Foundation (THF). Menurut beliau:

Setelah membaca buku ini, kita akan semakin mengenal kesungguhan dan kedalaman berpikir Mas Darmono untuk mengabdikan diri kepada bangsanya. (Hidayat dalam Darmono, 2017:xvii).

Terhitung 10 Bab tersaji dalam Building A Ship While Sailing. Dan saya memaknainya sebagai pelajaran tentang sejarah membangun negeri dari banyak aspek. Perjuangan tidak akan pernah berhenti.

Bergerak Maju Tanpa Melupakan Sejarah


Pada bab-bab awal Building A Ship While Sailing pembaca diajak menelusuri sejarah bangsa ini. Mulai dari Indonesia di zaman purba, nusantara di era Mahapahit, kemudian Indonesia dan kesultanan, hingga meluruskan pandangan tentang pribumi. Membaca tentang keteladanan tokoh bangsa membikin jiwa patriot dalam diri saya memberontak pula. Apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Hiks. Tahunya cuma berkoar-koar di media sosial, mengeluh tentang hal-hal yang tidak penting. Sedangkan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga John Lie Tjeng Tjoan, alias Jahja Daniel Dharma; satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Mengapa sejarah dan tokoh-tokoh besar bangsa diulas di dalam Building A Ship While Sailing? Karena tidak ada yang namanya depan tanpa belakang. Tidak ada yang namanya masa depan tanpa sejarah. Seperti ... apakah itu masih disebut putih bila tidak ada hitam? Kira-kira seperti itulah. Pembaca diajak untuk memahami tentang pembangunan bangsa ini sejak awal mula, simpang-siurnya kondisi pada zaman perjuangan dulu, hingga perjuangan tak kenal ampun para tokoh besar bangsa ketika Indonesia diproklamirkan merdeka, bagaimana Indonesia harus bergaul dan bergaung di dunia/global, bagaimana sebuah kapal yang belum sempurna harus mengarungi lautan yang ganas. Ya, bagaimana kemudian kapal ini terus bertahan di lautan ganas tersebut.

Wisata budaya merupakan poin yang paling saya soroti dari Building A Ship While Sailing. Ulasannya lengkap dan luas. Menurut Darmono, pariwisata merupakan salah satu sektor utama yang harus mulai dikembangkan dan dikelola dengan sangat serius untuk meningkatkan pendapatan regional dan nasional di Indonesia. Ada beberapa alasan mendasar kenapa pariwisata harus ditempatkan sebagai salah satu sektor penting pembangunan ekonomi. Alasan yang pertama tidak terlepas dari perubahan dunia. Dunia tengah memasuki gelombang revolusi ketiga setelah dua revolusi sebelumnya, yakni revolusi politik dan revolusi industri. Revolusi ketiga ini berlangsung pada wilayah teknologi komunikasi-informasi dan transportasi. Situasi ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada dunia pariwisata.

Sangat setuju!

Memulai Tidak Menunggu Sempurna


Ini garis besar yang saya tangkap setelah membaca Building A Ship While Sailing. Bagaimana kita memulai tanpa menunggu sempurna. Saya contohkan diri sendiri yang dulu ketika hendak berhijab selalu punya pernyataan: kumpulkan pakaian lengan panjang dan aneka hijab dulu, baru berhijab. Sampai kapan? Entah. Oleh karena itu pada suatu pagi saya menyingkirkan pernyataan sinting itu dan mulai berhijab. Hijrah yang terasa begitu menyenangkan karena justru setelah dilakukan, justru berjalan dengan mulus. Kendalanya ada ... kalau jilbab yang hendak saya pakai ternyata masih basah. Hahaha.


Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Bagaimana, kawan? Tertarik untuk membaca buku Building A Ship While Sailing juga? Silahkan. Saya jamin kalian tidak akan menyesal. Wawasan pasti bertambah. Apa yang saya tulis cuma sebagian kecil dari nilai-nilai yang diperoleh usai membacanya. Berjuanglah, blended dengan kondisi sekarang, dan naikkan layar meskipun kapal kalian belum sempurna terbentuk. Percayalah, banyak pelajaran yang bisa kita peroleh selama perjalanan ini dan pengalaman itu dapat menjadi penyempurna perjalanan.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

Friday, May 08, 2020

#PDL Mempromosikan Universitas Flores di Pulau Sumba


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Mempromosikan Universitas Flores di Pulau Sumba. Saat ini Universitas Flores (Uniflor) sedang dalam tahap mempromosikan kampus dan menerima pendaftaran calon mahasiswa baru. Pada saat seperti ini saya selalu teringat masa-masa menjadi tim promosi Uniflor. Salah satunya adalah pergi ke Pulau Sumba. Pulau sabana. Pulau berjuta kuda. Pulau dengan adat dan budaya yang sangat kental di setiap jengkalnya. Kalau ditanya apakah saya ingin kembali ke Pulau Sumba? Tentu! Tidak saja untuk menyaksikan kembali Pasola, tetapi juga untuk mengkesplor setiap sudutnya. Semoga.







Pernah, saya pernah melakukannya, dan ingin melakukannya lagi. Bekerja sambil #KakiKereta. Semoga Covid-19 lekas berlalu agar kita bisa jalan-jalan lagi. Amin YRA. Hehe.

#PDL



Cheers.

Thursday, May 07, 2020

5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam


5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam. Halo semua. Masih #DiRumahSaja? Tentu. Sudah mulai bosan? Jangan dong. Hehe. Bosan bisa bikin stres. Stres adalah salah satu sumber penyakit. Mari kita lawan kebosanan akibat Covid-19 dengan berkebun. Rajin-rajinlah menonton video berkebun di Youtube karena itu bisa menjadi sumber inspirasi berkegiatan selama masa karantina ini. Berkebun merupakan salah satu upaya untuk ketahanan pangan setidaknya ketahanan pangan di dalam rumah sendiri. Kalau kalian menonton serial The Walking Dead, kalian pasti tahu bahwa untuk mengatasi urusan makan dan minum, para penyintas itu berkebun dan memelihara ternak (babi) demi kelangsungan hidup mereka di tengah kepungan para zombie. Mungkin kalian bahal bilang, ini terlambat! Harusnya berkebun dilakukan sejak dulu sehingga sekarang, pada masa Covid-19, kita tinggal meneruskan dan bahkan memanen. Tapi bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?

Baca Juga: 5 Manfaat, 5 Tips, 5 Quotes, dan Pos Rangkuman Lainnya

Berkebun tidak membutuhkan lahan besar berhektar-hektar. Namanya berkebun mini. Dilakukan di rumah. Lain cerita kalau kalian mempunyai pekarangan yang luas depan, belakang, samping kanan dan kiri dari rumah, tentu bakal banyak banget tanaman yang bisa ditanam sembari mengisi waktu ketika pekerjaan yang dilakukan di dan/atau dari rumah sudah selesai. Saya sendiri juga tidak punya lahan (tanah/pekarangan) yang banyak, sehingga memanfaatkan polybag merupakan pilihan tepat. Tanah yang diisi di polybag diperoleh dari Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Ada juga tanah dari pekarangan samping Pohon Tua (dekat jalan). Yang penting adalah keuletan dan ketekunan merawat tanaman-tanaman tersebut, termasuk memberi pupuk dan menyemprot cairan anti hama, serta memberi kesempatan kepada tanaman disentuh sinar matahari untuk perkembangannya.

Berkebun di masa Covid-19 merajalela ini harus melihat-lihat juga tanaman mana yang lekas tumbuh dan bisa dikonsumsi. Kalau kita memilih menanam pepaya, misalnya, tentu tidak bisa lekas panen dalam tempo minggu atau tiga bulan. Pepaya setidaknya membutuhkan waktu sampai sembilan bulan untuk bisa dipanen. Oleh karena itu, pintar-pintar memilih tanamannya ya. Kali ini saya bakal menulis tentang lima tanaman kebutuhan dapur yang sangat mudah ditanam dan boleh dibilang jangka waktu panennya cukup cepat. 

Marilah kita cari tahu!

1. Sorgum


Bagaimana bisa sorgum tumbuh di tanah sisa beranda belakang Pohon Tua yang cuma sebesar 1 x 1 meter itu, kalian bisa membaca pos berjudul Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Sorgum merupakan tanaman yang sangat mudah ditanam. Gali tanah, isi bibit sorgum, biarkan saja. Dalam waktu sebulan saja sudah mulai kelihatan bibitnya tumbuh. Jangan salah, penampakan pohon sorgum ini mirip pohon jagung tapi mereka berbeda. Hehe. Dalam waktu tiga bulan, sorgum sudah bisa dipanen. Bagaimana cara memanennya, kalian bisa membaca pos di atas, atau menonton video berikut ini: 


Sorgum yang sudah dipanen itu dirontokkan bulirnya, lantas dijemur. Bisa juga dijemur baru dirontokkan bulirnya. Tinggal pilih mana yang paling gampang. Saya mencoba mengelola biji sorgum ini. Pertama-tama digoreng layaknya jagung bunga. Bisakah? Bisa! Jadinya: sorgum bunga. Karena waktu itu hanya mencoba, ya tidak banyak ... hehe.


Keesokan harinya tiga genggam sorgum kami coba tanak layaknya menanak nasi menggunakan panci (bukan di magicom). Ternyata ... bisa! Amboi, bahagianya saya melihat sorgum itu di piring. Langsung saya tata, untuk keperluan foto, dengan bahan apa pun yang ada di meja karena saat itu si Thika masih memasak lauk-pauk bekal makan malam. Hehe. 


Tak ada daun sop, cabe ijo pun jadi *ngakak guling-guling*.

2. Cabe


Cabe termasuk tanaman kebutuhan dapur yang dimanfaatkan sehari-hari untuk membikin sambal. Tanpa tomat pun, cabe yang diulek bercampur garam dan bawang sudah bisa menemani nasi yang kita makan. Sejak ditanam, cabe mulai berbuah dan bisa dipanen/dipetik dalam jangka waktu yang lumayan singkat sekitar satu sampai dua bulan, dan seterusnya selama dia terus berbunga maka insha Allah berbuah.


Menanam cabe bukan baru pertama kali bagi saya. Dulu saya juga menanamnya dan setelah tumbuh besar hampir setiap hari kami menikmati cabe hasil tanam sendiri ini. Bibit cabe dibeli di Toko Sabatani. Saya suka sekali sama toko ini karena semua kebutuhan berkebun tersedia. Yang jelas, harus bawa duit! Haha. Pada foto di atas ada pohon cabe rawit dan pohon cabe keriting yang juga sudah berbuah. Dua anakan cabe ini saya peroleh dari Cahyadi.

3. Kangkung


Kangkung merupakan tanaman yang paling mudah tumbuh dan paling cepat dipanen. Bahkan, kalian tidak perlu membeli bibit kangkung, cukup memanfaatkan batang-batang kangkung yang daunnya sudah dipakai/dimasak. Tidak percaya? Kangkung yang kalian lihat pada gambar berikut ini merupakan hasil dari menanam kembali batang kangkung yang daunnya sudah kami konsumsi loh.


Dari saat menanam sampai dipanen hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Lumayan cepat kan? Saat ini saya juga sedang menanam kangkung tapi bukan batangnya melainkan bibitnya. Dari video di Youtube ada bermacam cara menanam bibit kangkung. Katanya bibit harus direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam. Oleh karena itu kami mencoba dua cara. Pertama: bibit langsung ditanam pada media tanam di polybag. Kedua: bibit direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam pada media tanam di polybag. Nanti kita lihat hasilnya. Mana yang duluan tumbuh. Soalnya baru dilakukan/ditanam kemarin.

4. Bawang Merah


Menanam bawang merah saya lakukan hanya karena ikut-ikut, gara-gara melihat video di Youtube. Cara menanamnya atau membudidayakannya pun bermacam-macam. Saya lantas mencoba menanam beberapa bawang di polybag yang ukurannya agak besar. Saya menanamnya pada tanggal 17 April kalau tidak salah. Saya pikir, sepertinya bawang ini tidak bakal tumbuh karena naga-naganya bakal tamat. Eh, tetapi suatu pagi saya dikejutkan dengan pertumbuhan daun bawangnya! Amboiiii ... bahagia hati saya melihatnya.


Gara-gara itu, saya kembali mencoba menanam bawang dengan teknik lain yaitu semacam hidroponik tapi ini yang super sederhana saja. Awalnya juga saya pikir bakal tamat generasi penanaman kedua ini. Tetapi ternyata ... tumbuh. Bawang ini saya tanam sekitar awal Mei.


Kalau kalian lihat ada penampakan kulit telur, iya, saya menghancurkan kulit-kulit telur dan menyiramnya di tanah tempat tanaman tumbuh. Apa manfaat kulit telur bagi tanaman ... nanti bakal saya ulas haha.

5. Toge


Toge (tauge) merupakan sayuran yang tidak perlu ditanam, sebenarnya, tetapi kalau kalian mau bolehlah menanam bibit kacang ijo (hijau). Hanya bermodalkan kacang ijo kemasan 5K kami bisa menikmati toge selama dua hari (dibagi dua).


Membikin toge sangat mudah. Tinggal direndam, lantas dibiarkan saja di wadah dengan ditutup kain. Hasilnya seperti yang kalian lihat di atas.


Selain lima tanaman di atas, ada juga bibit sawi yang kami tanam. Tetapi karena salah menanam, di mana saya menanam dalam jumlah banyak per polybag, sebagiannya mati, sebagiannya hidup. 


Katanya sawi sudah bisa dipanen setelah usia satu sampai dua bulan. Mungkin karena media tanam waktu itu belum dicampur bokasi, dan cara menanam yang salah, makanya sudah sebulanan lebih sawinya tetap begitu-begitu saja, alias pertumbuhannya sangat lambat. Tapi tidak mengapa. Ini menjadi pembelajaran bagi saya untuk ke depannya. Setidaknya sawinya tetap tumbuh meskipun sangat lambat.

Baca Juga: 5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja

Berkebun memang sangat menyenangkan terutama pada saat sekarang di mana kita lebih banyak berada di rumah. Setiap pagi saya selalu dikejutkan dengan perubahan tanaman-tanaman ini (saat mereka mulai tumbuh besar). Tanaman-tanaman yang sudah besar saya letakkan di luar beranda yang tidak beratap sedangkan yang masih kecil dikeluarkan setiap pagi dan dimasukkan kembali setiap sore. Tidak lupa untuk menyiramnya pagi dan sore, tapi tidak sama takaran air untuk setiap tanaman. Dikira-kira saja lah. 

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Wednesday, May 06, 2020

Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif


Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Kalau kalian membaca pos kemarin, Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online, tentu kalian tahu bahwa kemarin saya berkegiatan di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Sambil bekerja, mata saya memerhatikan ruang-ruang kelas yang ditata apik di mana ada pemilahan: area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya. Dinding-dinding ruang kelasnya dipenuhi gambar antara lain gambarnya murid-murid dan tulisan bergambar seperti pohon tema. Selain rak-rak berisi buku, juga ada kardus berisi aneka permainan edukatif dan meja tempat memajang aneka permainan dan hasil kerajinan tangan murid-murid. Bagi saya, tempat pendidikan anak ini sangat instagenic. Manapula tembok panjang (tembok taman bermain) di depan jejeran kelas dipenuhi lukisan tokoh-tokoh kartun.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjadi guru TK dan guru Kober tentu harus kreatif. Senin kemarin waktu merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Gin (setelah merekam Ibu Efi), pada tema ajar rumah adat kan sudah ada rumah adat yang digambar (selain maket rumah adat), Ibu Efi berinisiatif mengumpulkan daun-daun kering bakal digunakan untuk ditempel bagian atap dan dindingnya, dan dipraktekkan oleh Ibu Gin. Ini kan super kreatif. Merangsang otak anak-anak untuk lebih kreatif, sekreatif guru mereka. Iya, saya kagum sekali pada mereka.

Kembali lagi pada tema hari ini #RabuDIY, maka ijinkan saya membagitahu kepada kalian bahwa di TK Uniflor dan Kober Yapertif bertebaran produk-produk DIY yang membikin saya berkata: wow! Saya harus menulis tentang ini.

Boneka Benang Wol


Benang wol dapat kita manfaatkan untuk berbagai kerajinan tangan. Saya pernah menulis Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Umumnya orang-orang tahu benang wol sebagai bahan dasar membikin kerajinan tangan kristik. Selain benang wol, menyulam kristik juga membutuhkan media yaitu kain kristik, gambar (ada buku gambar khusus kristik ini), dan sebagian orang membutuhkan pemidang. Selain kristik, benang wol dimanfaatkan untuk merajut: membikin topi, kaos kaki bayi, bahkan gelang anyaman (bukan gelang seperti yang saya bikin tetapi ini lebih rumit). Benang wol juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan lilitan botol-hias. Macam-macam manfaat benang wol ini.

Di TK Uniflor dan Kober Yapertif saya menemukan kerajinan tangan dari benang wol, tanpa repot membikinnya. Ini dia penampakannya:


Asli, saya terkejut. Ternyata bisa juga benang wol dibikin boneka tanpa harus repot ini itu. Tinggak menyatukan dua benang wol, dikasih dasi dari benang wol lainnya, dikasih mata dan hidung. Jadi deh. Sepertinya saya ingin mencoba membikinnya juga. Imut dan unik ... bikin gemaaaaas. Seru juga kalau untuk rambut dipakaikan benang wol warna hitam hehehe. Tunggu tanggal mainnya! Saat ini saya masih serius mengurus kebun mini di beranda belakang Pohon Tua dulu ya. Hehe.

Boneka Berbahan Karton/Kardus Bekas


Saat sedang merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Efi, Pak Beldis datang membawa boneka berbahan kardus bekas yang dipakaikan pakaian adat Ende yaitu lawo lambu/zawo zambu. Awalnya boneka ini tidak mempunyai wajah, hanya kepala begitu saja. Tetapi tak berapa lama Pak Beldis kembali datang dan menempel wajah pada bonekanya! Amboiiiii kreatifitas seorang guru jangan diuji. Ha ha ha. Cantik kan bonekanya?


Sumpah! Bibir saya sudah hampir bilang: bonekanya untuk saya saja, yaaaaa. Hehe. Bagus sekali ini kalau dijadikan pajangan di rumah. Kebayang kan kalau di ruang tamu ada rak kayu yang memajang boneka-boneka hasil karya sendiri alias hasil DIY. Bangga. Itu pasti. Manapula unik begitu. Sungguh, saya terpesona.


Masih banyak produk DIY lain di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Selain dua boneka di atas, saya juga melihat begitu banyak hiasan gantungan yang dibikin sendiri oleh guru-guru di sana yang mempercantik ruang kelas. Bahannya yang sederhana saja alias bisa juga dari barang daur ulang seperti sedotan dan gelas plastik yang digunting sedemikian rupa menjadi lebih cantik, lantas disatukan dengan benang dan dijadikan hiasan gantung. Saya juga melihat media pembelajaran seperti pasir, batu, dan air. Ini menarik. Selain mengenal benda alam, batu juga dimanfaatkan untuk belajar berhitung para murid.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Nah, bagian pasir, batu, dan air ini saya lupa nama areanya apa (kan ada area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya) tapi cantik sekali lantainya diletakkan aneka benda alam seperti itu. Nanti deh kalau ke sana lagi bakal saya foto hahaha. Maklum, memerhatikan sekeliling dilakukan sambil melaksanakan pekerjaan utama.

Bagaimana, kawan. Tertarik ingin membikin boneka seperti dua gambar di atas? Yuuuuk ... tidak pernah merugi mencoba hal-hal bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, May 05, 2020

Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online


Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online. Selain Universitas Flores (Uniflor), Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) juga menaungi dua lembaga pendidikan anak yaitu TK Uniflor dan Kober Yapertif. Lembaga pendidikan anak itu tidak hanya Taman Kanak-Kanak (TK) saja. Ada yang disebut Kelompok Bermain (Kober). Keduanya sama-sama lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bedanya, ada pada regulasi yang mengatur tentang TK dan Kober ini. Pasal 28 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berbunyi sebagai berikut:

Ayat (1):
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

Ayat (2):
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Ayat (3):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (4):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (5):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Ayat (6):
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Baca Juga: Ternyata Bisa Juga Saya Membikin Video Tutorial Blogging

Rentang usia anak untuk Kober antara 2 s.d. 4 tahun. Rentang usia anak untuk TK antara 4 s.d. 6 tahun (sampai cukup usia memasuki bangku Sekolah Dasar). Sedangkan Taman Pendidikan Anak (TPA) biasanya untuk anak berusia 0 s.d. 2 tahun. Adanya TPA sangat membantu orangtua yang baik Bapak maupun Mama bekerja di luar rumah karena anak tidak saja mempunyai teman bermain tetapi juga diberikan pendidikan-pendidikan dasar oleh para pengelola TPA. Kalau begini saya jadi ingat dua buku yang ditulis oleh Mas Bukik Setiawan yang berjudul Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir.

Fast forward, saya dan Om Ihsan Dato ditugaskan untuk membikin video profil TK Uniflor dan Kober Yapertif. Tentu dalam masa pandemi Covid-19 akan sangat sulit mengumpulkan anak-anak, manapula anak-anak (dan lansia) kan sangat rentan. Alhamdulillah banyak footage video lama yang masih kami simpan dan bisa dipakai; anaknya Om Ihsan kan juga bersekolah di TK Uniflor. Selain itu kami juga ditugaskan untuk membikin video materi pembelajaran online. Ini yang asyik, karena inilah inti tulisan saya hari ini.

Senin kemarin, kebetulan jadwal piket saya menjaga gawang di kantor (Senin dan Selasa), saya bertugas merekam video pembelajaran online untuk murid TK Uniflor. Ketika sampai di lokasi, dua guru yang sudah siap direkam adalah Ibu Efi dan Ibu Gin. Maka, kami bertiga ditemani Kepala Sekolah Ibu Ross pergi ke ruang kelas untuk keperluan ini. Tentu menjaga protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan memakai masker. Tetapi ketika saya merekam, guru yang bersangkutan tidak memakai masker karena jarak antara saya (dan kamera) dengan guru yang sedang mengajar lebih dari satu meter. Lebih jauh dari jarak protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sedangkan saya sendiri tetap memakai masker dan beberapa kali membasuh tangan dengan hand sanitizer. Hahaha.

Ibu Efi memulai terlebih dahulu. Pura-puranya di dalam kelas juga ada murid, sebenarnya tidak ada. Haha. Ini akting tapi based on true story. Kenapa harus pura-pura ada muridnya? Supaya Ibu Efi mengajarnya lebih rileks seperti hari-hari normal. Dimulai dari menyapa anak-anak, bernyanyi memuji dan berterima kasih pada Tuhan, dan berdo'a. Lalu Ibu Efi mulai mengajarkan materi/tema yaitu tentang angka, warna, dan bendera. Pindah ke kelas selanjutnya saya merekam Ibu Gin. Dengan pembuka yang hampir sama dan materi/tema yaitu tentang rumah adat, membikin mozaik rumah adat, bendera, Presiden dan Wakil Presiden, hingga daerah Ende. Meskipun perkiraan saya hasilnya nanti setiap video materi pembelajaran hanya berdurasi sekitar lima sampai delapan menit, tapi proses syutingnya memakan waktu lebih dari dua jam. Iya, karena selain ada yang harus diulang, beberapa hal juga harus dipersiapkan terlebih dahulu.

Footage video pembelajaran itu sedang saya persiapkan untuk disunting dan nantinya akan diunggah di akun Youtube TK Uniflor dan Kober Yapertif untuk dipelajari oleh murid dari rumah mereka masing-masing.

Kawan, saya pernah membikin pernyataan: NGEMSI DI ACARA ULTAH ANAK-ANAK 1000 KALI LEBIH SULIT KETIMBANG NGEMSI DI ACARA ORANG DEWASA. Karena apa? Karena saya harus punya banyak trik agar anak-anak patuh dan mengikuti acara hingga selesai. Mereka dapat bersenang-senang bersama saya sebagai pembawa acara. Itulah sebabnya saya kagum sekali pada guru-guru TK dan Kober di mana pun mereka berada karena merekalah tumpuan awal pendidikan dan akhlak seorang anak! Memposisikan diri sebagai murid TK Uniflor saat merekam aksi dua guru tersebut di atas mengajar, saya terharu sekali. Membayangkan Mamatua dulu juga mengajar murid SD ... tentu harus punya trik, pun harus banyak gaya. Terberkatilah kalian wahai para guru. Saya sayang kalian semua.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Mau tidak mau, Covid-19 mengubah banyak hal di dunia ini, termasuk belajar anak-anak. Bagi anak-anak yang orangtuanya mempunyai akses yang baik untuk internet, tentu ini perkara mudah, karena mereka dapat menonton materi pembelajaran online di Youtube bersama anak. Tetapi bagaimana dengan orangtua yang sulit dengan akses internet dan bahkan listrik di daerahnya pun belum tersedia? Apakah mereka juga menjalankan sistem pembelajaran online atau e-learning ini? Tentu tidak. Lantas, bagaimana caranya? Ini yang saya tidak tahu karena belum pernah berkomunikasi atau bertanya-tanya pada guru-guru di desa/kampung. Semoga ada kesempatan melakukannya.

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, May 04, 2020

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. sedang membagi masker, tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan usai kegiatan.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan. Sabtu kemarin saya meliput kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Flores (Uniflor) dalam hal ini pihak Rektorat. Kegiatannya sangat keren yaitu membagi (ratusan) masker kepada masyarakat sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardikas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, saya pikir kegiatan ini sangat tepat dengan kondisi sekarang di mana Covid-19 sedang merajalela. Membagi sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker merupakan salah satu upaya penting memutus penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Karena saya yang membikin beritanya, maka bolehlah saya mengkopi-tempel berita tersebut di sini. Cekidot.

PERINGATI HARDIKNAS UNIFLOR MEMBAGI RATUSAN MASKER KEPADA MASYARAKAT

Peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Flores (Uniflor) membagi ratusan masker kepada masyarakat. Dalam sambutannya sebelum pembagian masker dimulai Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini menunjukkan Uniflor peduli dengan pendidikan yang mana suasana Hardiknas pada tahun ini masih belum kondusif akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu selain pembagian masker juga dilakukan edukasi kepada masyarakat yang menerima masker tersebut tentang betapa pentingnya memakai masker dalam situasi sekarang. Pada masa yang akan datang Uniflor akan mengupayakan pembagian masker dalam skala yang lebih besar yaitu dengan melibatkan setiap program studi.

Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. mengucapkan terima kasih kepada Uniflor atas kegiatan ini. Lebih lanjut Ana Maria mengungkapkan bahwa murid lebih takut kepada guru ketimbang orangtua, atas pemikiran ini mudah-mudahan dapat membuat masyarakat lebih peduli, karena Covid-19 sangat berbahaya dan paling utama selain mencuci tangan adalah harus menggunakan masker.

Pembagian masker dilakukan di persimpangan Jalan Wirajaya, Jalan Melati, Jalan Uniflor, dan Jalan Prof. Dr. W. Z. Yohanes. Kegiatan pembagian masker dihadiri dan dilakukan oleh Rektor Uniflor, Wakil Rektor Bidang Akademik Uniflor Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Uniflor Falentina Lucia Banda, S.E., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Uniflor Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb., Sekretaris Eksekutif Uniflor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., Sekretaris Yapertif, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Uniflor Christina Gabriela, S.Sos., Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Emilia Contessa Sero, A.Md., dan dibantu sebagian dosen dan karyawan Uniflor. Selain masker untuk orang dewasa juga dibagi masker untuk anak-anak.(2teh).

Sebelumnya, Uniflor yaitu Prodi Akuntansi juga telah membagi masker kepada masyarakat terutama di daerah Pasar Wolowona, Pasar Mbongawani, dan Pasar Potulando. Sedangkan Prodi Pendidikan Fisika telah melakukan penelitian dan membikin hand sanitizer dan disinfektan serta dibagikan pula kepada masyarakat dan pihak Kelurahan Paupire tempat Uniflor berdomisili.

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Uniflor telah berupaya dan membuktikan kepeduliannya terhadap lingkungan yang sehat sebagai idealnya manusia tinggal. Tugas kita semua adalah mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah antara lain mencuci tangan minimal dua puluh detik sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), memakai masker, menjaga jarak, dan kalau bisa membersihkan rumah dan lingkungan dengan menyemprot cairan disinfektan. Disinfektan sangat mudah dibikin. Kakak Nani Pharmantara yang pada masa pensiunnya bersama suami membuka kios sembako juga menyediakan kran dan sabun untuk cuci tangan para pembeli serta menyemprot uang yang diserahkan menggunakan cairan disinfektan (lalu dijemur) hahaha.

Semoga bermanfaat.

Mari, saling menjaga!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Saturday, May 02, 2020

Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Credits: Logos Fandom.

Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri. Covid-19, oh Covid-19. Kau menjadikan kami mempunyai lebih banyak waktu di rumah saja. Kegiatan yang dilakukan juga banyak; membaca lebih banyak buku dan artikel, lebih lama dan lebih sering mengobrol dengan orang se-Pohon Tua tentang berbagai isu dan rencana-rencana menjelang Hari Raya Idul Fitri, menanam lebih banyak bibit tanaman untuk dapur serta tanaman yang menghasilkan bunga, membikin kue yang kebanyakan gagal, sampai berkreasi ini itu. Semuanya dilakukan setelah pekerjaan kantor selesai! Iya, pekerjaan kantor yang juga dilakukan di rumah dan dari rumah. Malam hari, lebih banyak video yang ditonton mulai dari Upin Ipin, Larva, tiny house, gardening, Nessie Judge, Yuvi Phan, That Chapter, hingga ... Suami-Suami Takut Isteri.

Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Kalian tentu masih ingat sinetron serial Suami-Suami Takut Isteri bukan? Situasi komedi (Sitkom) yang bikin kita ngakak di tahun-tahun lampau. Ceritanya tentang suatu kompleks yang dihuni oleh beberapa keluarga dan dipimpin oleh Pak RT. Rata-rata bapak-bapak kompleks digambarkan ganjen kalau melihat makhluk 'halus mulus'. Dan makhluk 'halus mulus' itu bernama Pretty. Kasihan sih Pretty selalu menjadi korban cercaan ibu-ibu kompleks, padahal dia adalah korban keganasan bapak-bapak kompleks. Kalau urusannya sama Pretty dan/atau perempuan cantik bohay lainnya, ketakutan bapak-bapak kompleks pada isteri mereka hilang seketika. Haha. Kocak sekali lah ceritanya.

Bersumber dari Wikipedia, Suami-Suami Takut Istri adalah komedi situasi nasional 2007-2010 yang ditayangkan di Trans TV setiap Senin hingga Jumat pukul 18.00 sampai 19.00 WIB selama 1 jam 1 episode mulai tayang sejak Senin, 15 Oktober 2007 sampai dengan episode terakhir hingga tamat ditutup Jumat, 2 April 2010 dengan jumlah 649 episode dan NET. (melalui NET. Classic) menyiarkan kembali sejak Rabu, 5 Juni 2019 sampai dengan episode terakhir hingga tamat ditutup Agustus 2019 setiap hari pukul 16.00 sampai 18.00 WIB selama 2 jam 2 episode yang ditayangkan jumlah 649 episode. Serial ini digarap oleh rumah produksi Multivision Plus di bawah arahan sutradara Sofyan De Surza.

Komsit ini mengangkat fenomena suami-suami yang tinggal di suatu area perumahan. Mereka semua memiliki kesamaan yaitu berada di bawah dominasi istri-istri mereka. Perasaan "senasib sepenanggungan" ini tumbuh makin kuat, sehingga mereka membentuk aliansi tidak resmi bagi suami-suami yang takut istri ini. Mereka saling mendukung dan mencela, saling menguatkan agar tidak lagi mau ditindas, walaupun sering kali sang pemberi nasihat justru masih takut istri juga. Para istri di kompleks perumahan tersebut juga membentuk perkumpulan yang sama. Mereka saling memberi dukungan agar tidak kehilangan kendali atas suami-suami mereka. Konflik antara kelompok suami dan kelompok istri semakin diperuncing dengan hadirnya seorang wanita cantik, Pretty, yang tinggal di kompleks perumahan mereka.

Mulai Rabu, 5 Juni 2019, serial ini kembali ditayangkan di NET. (melalui NET. Classic) setiap hari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB selama 2 jam 2 episode.

Itu informasi terkini dari Wikipedia. 

Para pemeran Suami-Suami Takut Isteri bisa dibilang semuanya tokoh sentral. Tidak ada yang memegang peranan paling banyak. Sama rata lah. Para pemerannya adalah Otis Pamutih sebagai Sarmili/Pak RT, Aty Fathiyah sebagai Sarmilla, Marissa Saputra sebagai Sarmilila/Lila, Irfan Penyok sebagai Karyo, Putty Noor sebagai Sheilla, Amel Carla sebagai Carla, Asri Welas sebagai Welas, Sumaisy Djaitov Yanda sebagai Tigor, Adi Irwandy sebagai Gerry, Ozzol Ramdan sebagai Uda Faisal, Melvy Noviza sebagai Deswita, Desi Novitasari sebagai Pretty, Epy Kusnandar sebagai Dadang, Ki Daus sebagai Ki Daus, Karina Ranau sebagai Euis, Claudia Andhara sebagai Dindit, Denzel Flavio sebagai Dodot, Puadin Redi sebagai Jimmy, Rajwa Gilbram Ridha Rahardja sebagai Ibam, Novitasari Anggraeni sebagai Sumi, Yeni Mutrofin sebagai Memey, Fikram sebagai Daus Hardi Fadhillah sebagai Johnathan/Abdullah.

Bagi saya pribadi Suami-Suami Takut Isteri mewakili Indonesia, menggambarkan sifat-sifat dan sikap manusia, gaya hidup, hingga dunia anak-anak. Hanya saja karena ceritanya berporos pada keganjenan bapak-bapak kompleks, saya pikir sitkom ini janganlah ditonton oleh anak-anak. 

Suami-Suami Takut Isteri mewakili Indonesia karena di dalamnya ada beberapa suku. Pak RT sekeluarga pastinya dari Betawi dengan dialek mereka yang khas. Uda Faisal dan Deswita, pasangan suami isteri yang berasal dari Sumatera Barat. Karyo berasal dari Jawa sedangkan Sheilla ... hmmm ... dari Jakarta sih nampaknya. Welas berasal dari Jawa juga, sedangkan Tigor dari Batak. Sekuriti semacam Dadang itu dari dialeknya tentu berasal dari Sunda. Kelihatan juga sih dari namanya: Dadang. Setidaknya banyak daerah di Indonesia yang terwakilkan di dalam sitkom yang satu ini.

Suami-Suami Takut Isteri menggambarkan sifat-sifat dan sikap manusia. Ya kita tentu tahu bahwa di dalam kompleks itu ada pasangan paling pelit sedunia yaitu Uda Faisal dan Deswita. Saking pelitnya, saya pengen ngelemparin mereka sama bantal hahaha. Ada sosok yang kalau lihat makanan paling tidak tahan, siapa lagi kalau bukan Sarmilla alias Ibu RT. Sheila adalah artis yang penampilannya fashionable. Bertolak belakang sama Sheilla, Welas ini ibu rumah tangga sejati dengan penampilan sehari-hari yang ... begitu-begitu saja tetapi kekuatan melempar sendal di kakinya Welas ini bikin Tigor ketakutan setengah mampus. Pretty, selalu menjadi korban dari kedua pihak baik ibu-ibu kompleks maupun bapak-bapak kompleks. Sedangkan secara umum bapak-bapak kompleks digambarkan ganjen to the max.

Suami-Suami Takut Isteri juga menggambarkan kehidupan dan/atau dunia anak-anak meskipun tidak memakan porsi yang banyak. Tetapi saya malas sekali membahas dunia anak-anak di dalam sitkom ini karena ... ya gitu deh.

Yang jelas pada sitkom Suami-Suami Takut Isteri ada banyak pelajaran yang bisa dipetik kecuali pengulangan ganjennya bapak-bapak kompleks sama Pretty dan/atau perempuan cantik bohay lainnya (ada bintang tamunya juga). Dalam episode Bu RT mengusir Pak RT, misalnya. Ketika Pak RT menginap di pos ronda, ada pelajaran paling berharga di situ; jangan membuang sepiring nasi yang sudah tersaji. Niat selingkuhnya Pak RT akhirnya batal. Duuuuh bapak tua yang satu ini bikin keki kalau melihat kelakuannya. Hahaha. Secara Pak RT akhirnya menyesal. Tuuuuh, jangan pernah menyia-nyiakan apa yang sudah kalian dapatkan wahai bapak-bapak ... terutama isteri dan keluarga yang baik. Nanti kalian bakal rugi sendiri.

Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya

Menonton ulang Suami-Suami Takut Isteri masih menghadirkan tawa yang sama. Meskipun tidak setiap malam tetapi saya masih menonton satu dua episodenya sebagai pengantar tidur. Tetapi toh masih juga saya harus menonton Upin Ipin dan Larva. Hehe. Yang masih saya cari adalah Kejar Tayang. Sepertinya minim sekali sitkom yang satu itu ... semoga ada yang mau mengunggahnya ke Youtube. 

Bagaimana dengan kalian, kawan? Siapa tahu setelah membaca ini kalian langsung mencari sitkom Suami-Suami Takut Isteri di Youtube.

Semoga bermanfaat!

#SabtuReview



Cheers.

Friday, May 01, 2020

#PDL Sebagai Buruh Saya Selalu Menanti Tanggal 1 Mei

Credits: Canva.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Sebagai Buruh Saya Selalu Menanti Tanggal 1 Mei. Saya pikir, kalian semua pun sama. Sama-sama senang mendapat tambahan tanggal merah satu hari, demi memperingati Hari Buruh. Kita pernah melakukan banyak pekerjaan (dalam hidup ini) dan kita patut merayakan kerja keras tersebut. Oleh karena itu, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Buruh!

#PDL



Cheers.