I Write My All

LightBlog

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores . 19 Juli 1980 merupakan tanggal lahirnya Universitas Flores (Uniflor) . Founding f...

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores. 19 Juli 1980 merupakan tanggal lahirnya Universitas Flores (Uniflor). Founding father-nya, H. J. Gadi Djou, Drs.Ekon. yang karib kami sapa Opa Ema, berjuang begitu keras dan gigih agar pendidikan kaum muda di Pulau Flores tetap berjalan dan berlanjut saat Universitas Nusa Cendana (Undana) Cabang Ende ditutup atas regulasi pada saat itu. Dari buku Sang Visioner, dan tulisan-tulisan dari isteri Opa Ema yaitu Oma Mia Gadi Djou dalam buku-buku seri Cerita-Bercerita, saya pribadi patut mengucapkan terima kasih atas perjuangan Opa Ema mendirikan, membangun, dan mengembangkan Uniflor. Beliaulah sejatinya seorang visioner. Apa yang menjadi visi (dan misi) beliau saat itu, kini telah terwujud. Lulusan Uniflor terserap ke masyarakat: guru/pendidik, ASN, wakil rakyat, wirausahawan, advokat, petani, penyiar radio, kontraktor, orang-orang yang bekerja di belakang layar televisi, dan lain-lain yang tidak dapat saya mention satu per satu.

Baca Juga: #PDL 38 Tahun Uniflor dan Cerita Bersamanya

19 Juli 2020, Uniflor merayakan panca windu-nya. Di usia matang ini, eksistensi Uniflor dalam kancah dunia pendidikan di Indonesia sangat diperhitungkan. Mahasiswanya tidak saja datang dari Pulau Flores, tetapi juga dari Pulau Sumba, Pulau Adonara, Pulau Alor, Pulau Solor, Pulau Lembata, dan sekitarnya. Mahasiswanya bahkan datang dari daerah 3T melalui beasiswa afirmasi; anak Papua, hingga anak Malang yang orangtuanya tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Uniflor telah membuktikan visi-nya sebagai universitas unggul dan sebagai mediator budaya. Bagi saya, Uniflor telah menyatukan begitu banyak budaya menjadi satu budaya yaitu budaya Uniflor. Budaya Uniflor yang tetap memegang teguh budaya masing-masing individu tanpa mendiskreditkan yang lain; menyatukan semua perbedaan budaya tradisional itu bersama budaya moderen.

Saya memang tidak tumbuh bersama Uniflor, di mana Uniflor lahir ketika usia saya menginjak 7 (tujuh) bulan. Tapi saya tumbuh bersama Uniflor sejak tahun 2011 dan berkembang hingga saat ini, dan insha Allah seterusnya. Bertumbuh bersama Uniflor tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya, mengingat kebiasaan sering jenuh dengan satu pekerjaan. Nampaknya kali ini memang beda; situasi dunia kerja yang penuh rasa kekerabatan. Kali ini memang beda; saya menemukan renjana pada pekerkaan ini. Ketika menemukan renjana pada pekerjaan, semua orang pasti lebur bersamanya. Saya sudah melalui 4 (empat) kali pindah ruangan, 4 (empat) kali ganti Pimpinan UPT Publikasi dan Humas Uniflor, 5 (lima) kali ganti Kepala Tata Usaha, rekan kerja yang datang-pergi lantas meninggalkan saya dan Kakak Rossa berdua. Bekerja di satu bidang selama 9 (sembilan) tahun ternyata tidak semerta-merta bikin kenyang pengalaman, karena semakin banyak hal/ilmu baru yang saya pelajari, hingga akhirnya ditempatkan sebagai Kabag Dokumentasi dan Publikasi di UPT Publikasi dan Humas Uniflor.

Saya berkembang bersama Uniflor. Ya, itu benar. Melihat Uniflor dari tahun 2011 sampai dengan sekarang, rasanya ingin menitikkan air mata. Dosen-dosennya rata-rata Magister dan kini telah lebih banyak Doktor (dan yang sedang kuliah S3). Semua ruang kuliahnya dilengkapi komputer dan LCD termasuk ruangan micro-teaching, free Wi-Fi di mana-mana bahkan di kantin, perpustakaannya (perpustakaan utama, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan program studi) menyediakan koleksi buku yang lengkap, klinik kesehatan dengan seorang dokter dan dua bidan, kampus ministry, fasilitas pusat komputer, fasilitas olah raga, ragam UKM yang mana prestasinya hingga ke tingkat provinsi dan nasional. Mahasiswa Uniflor juga melakukan penelitian membikin hand sanitizer dan disinfektan bersama dosennya. Tentu, mahasiswa Uniflor juga diberikan beasiswa untuk kategori-kategori tertentu antara lain mahasiswa berprestasi hingga mahasiswa kurang mampu.

Pada masa pandemi Covid-19, Uniflor bertindak sebagai orangtua yang sangat peduli pada anak-anaknya. Mahasiswa diberikan berbagai bantuan:
1. Pembagian sembako.
2. Pembagian pulsa data untuk e-learning
3. Pemotongan biaya registrasi.
4. Pembayaran SKS boleh dikredit.
5. Pemotongan biaya KKN.
dan bantuan-bantuan lainnya.
Oh ya, masih dalam masa pandemi Covid-19, Uniflor baru saja melaksanakan wisuda online pada tanggal 18 Juli 2020.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Di usianya yang ke-40, tidak ada yang bisa saya berikan kepada Uniflor selain ucapan dan do'a. Semoga Uniflor tetap menjadi universitas unggul, terpercaya, dan terdepan. Semoga Uniflor tetap menjadi mediator budaya. Semoga Uniflor tetap menjadi rumah bagi banyak orang; suka duka kita hadapi dan lewati bersama. Eits, tapi dalam hal lomba antar unit, kita tidak bisa bersama, hahahaha, masing-masing unit pasti berupaya untuk menang. Saya pernah membaca tulisan: usia sangat berarti bagi sepotong keju. Harapan saya: demikian pula Uniflor.

40 and still counting ...

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.