I Write My All

LightBlog

Cara Cerdas Refly Harun Membahas Sesuatu Bikin Kagum . 26 Oktober 2019 lalu saat Refly Harun datang ke Kota Ende , khususnya menerima undan...

Cara Cerdas Refly Harun Membahas Sesuatu Bikin Kagum



Cara Cerdas Refly Harun Membahas Sesuatu Bikin Kagum. 26 Oktober 2019 lalu saat Refly Harun datang ke Kota Ende, khususnya menerima undangan Universitas Flores (Uniflor) untuk memberikan kuliah umum bertajuk Membangun Potensi Diri sebagai Mediator Budaya: Mengawal Ideologi, Melawan Radikalisme saya tidak sempat meliputnya. Iya, pada hari yang sama saya mendokumentasikan pernikahan sahabat baik, Mila Wolo dan Aram Ismail. Dalam hati saya berkata, pernikahan sahabat saya merupakan momen terpenting dalam hidupnya, mendengarkan kuliah umum Refly Harun, insha Allah, dapat saya lakukan di lain waktu. Siapa sangka kemudian saya menemukan channel Youtube milik Refly Harun. Channel ini ibarat oase yang memuaskan banyak orang, I guess, tentang banyak hal yang berkaitan dengan Indonesia, dalam perspektif hukum. 


Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi


Pada akhirnya saya dapat menjadi 'peserta kuliah umum' dengan pemateri tunggal Refly Harun, Pakar Tata Negara. Hehe. Di mana di setiap videonya ia tampil mengenakan kaos dengan kerah a la preman zaman dulu, selalu dinaikkan. Barangkali ini bakal jadi gaya memakai kaos (berkerah) yang bakal ditiru banyak lelaki *ngikik*. But I like his style.


Deskripsi pada channel Refly Harun super unik. Saya kopas langsung:


Di Channel ini, Anda akan di-RAYU, DICECAR, di-TiPU, di-BAPERIN, dan di-UBER di JALUR khusus. Karena channel ini adalah channel yang MENGANCAM, MEMERAS, dan MEMBENCI. 


#RAYU - Refly Answers You Understand

#DICECAR - Dialog Cerdas Cara Refly

#TiPU - Tiga Pertanyaan Utama 

#BAPERIN - Bahan Perbincangan Hari Ini

#UBER - Ulas Berita

#JALUR - Jalan Lurus 


MENGANCAM = MEmbahas PerbincaNGAN maCAM-macam

MEMERAS = MEMberi Edukasi secaRA bernaS

MEMBENCI = MEMBangkitkan Energi daN CInta


Cadas!


Refly Harun selalu membahas isu-isu terkini di negara ini. Secara obyektif. Ingat, obyektif memang menyakitkan bagi sebagian orang, tapi saya sendiri juga lebih suka segala sesuatu yang dipandang secara obyektif. Ada keberimbangan dalam obyektifitas. Kadang ia membahas berita, membahas artikel opini, atau membahas buku. Tapi yang jelas, tidak jauh-jauh dari isu terkini di negara ini. Seperti salah satu video yang membahas tentang artikel opini yang ditulis oleh Ubedilah Badrun seorang Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di kolom opini Tempo.Com. Judulnya: 75 Tahun Indonesia Maju, Anak Maju Menantu Maju. Karenanya, 75 tahun Indonesia merdeka, yang merdeka itu dinasti politik. Menarik! Menarik! Menarik! Tapi blog saya tidak pernah membahas politik, haha, jadi yaaaa ...


Ada satu video yang juga sangat menarik minat saya yaitu tentang sebuah buku yang diberitakan di CNN. Buku itu ditulis oleh seorang peneliti asal Lowy Institute bernama Benjamin "Ben" Bland. Di buku itu Presiden Jokowi dikritik habis-habisan oleh Ben. Buku itu akan dirilis 1 September 2020 mendatang. Menurut Refly Harun ada empat kata kunci yang cukup jelas terpapar di sini yaitu terburuk, aneh, otoriter, dan kacau. Sayangnya di pemerintahan terakhir-terakhir ini, rasanya situasi demokrasi kita sangat mencekam dengan ancaman undang-undang ITE misalnya, dengan ancaman dari pintu belakang, misalnya remove from the office. Jadi, kita tidak siap berbeda pendapat.


Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Saya tentu tidak akan menceritakan satu per satu video yang telah tayang di channel kece Refly Harun tersebut. Kalian silahkan nonton sendiri. Hehe.


Well, 75 tahun Indonesia merdeka. Doa saya tetap cuma satu: Covid-19 segera berlalu! Supaya kita bisa jalan-jalan lagi mengeksplor Pulau Flores. Ha ha ha. Itu poinnya. Semoga akhir minggu kalian menyenangkan, kawan.



Cheers.

loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.